Syu’aib adalah putra asjur bin Madyan (keturunan Madyan). Kaumnya disebut kaum Madyan. Syu’aib masih keturunan Nabi Ibrahim A.S. Sebenarnya Madyan mempunyai agama peninggalan ajaran Nabi Ibrahim A.S. Namun seiring berjalannya waktu kaum madyan semakin jauh dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Ibrahim. Semakin lama kemungkaran telah membudaya dalam masyarakat, sehingga di sana-sini terjadi kekacauan. Tidak ada ketenangan dalam hidup. Yang ada hanya kejahatan dimana-mana. Hukum rimba diterapkan sehingga kaum yang lemah semakin tertindas oleh kaum yang kuat.

Daratan Madyam memang subur. Tanah pertanian di saat itu merupakan harapan hidup rakyat di sana. Hidup orang Madyan memang makmur, berkat kesuburan tanah garapan mereka. Gandum dan buah-buahan dapat menghidupi kaum Madyan. Sesungguhnya mereka mendapatkan warisan ajaran dari Nabi Ibrahim. Namun ternyata semakin lama semakin luntur. ereka semakin jauh dari agama, tetapi semakin dekat dengan maksiat. Dalam berdagang mereka suka mengurangi timbangan, memalsukan takaran dan kecurangan-kecurangan lainnya.

Karena sedemikian parah, maka Allah mengutus Nabi Syu’aib untuk menjadi nabi. Nabi Syu’aib menyeru kepada mereka agar meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat itu. Tapi mereka tidak menghiraukan sedikit pun seruan yang baik itu. Dalam Al-Quran mengatakan,

"…. Syu’aib berkata,"Wahai kaumku, sembahlah Allah, bagimu tidak ada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu satu tanda nyata (Syu’aib) dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang, takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaiki. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu benar-benar beriman." (QS. Al A’raf: 85)

Tetapi sayang, semua ajakan dan perintah Nabi Syu’aib hanya dijadikan candaan belaka. Bahkan mereka semakin berani menentang Nabi Syu’aib. Kejahatan dan kemaksiatan semakin merajalela. Lalu Allah mengirimkan tanda-tanda awal azabnya. Madyan mengalami kemarau panjang. Akibat musim kemarau yang berkepanjangan, semua tanaman mati kekeringan. Rumput-rumput tidak bisa tumbuh lagi. Hasilnya, ternak mereka pun kurus dan sedikit demi sedikit mati.

Melihat keadaan ini, Nabi Syu’aib kembali mengingatkan kaum Madyan. "Wahai kaumku, aku tidak pernah bosan untuk mengingatkan kalian agar kalian beriman kepada Allah dan janganlah kalian mengurangi timbangan. Jika kalian beriman kepada Allah, maka Allah akan menurunkan hujan!"

"Janjimu dusta wahai Syu’aib. Aku sama sekali tidak percaya kepadamu. Dan jangan harap kami mengikuti jejakmu menyembah Tuhanmu. Sejak dulu kau bejanji bahwa Tuhanmu menurunkan azab kepada kami, nyatanya mana azab itu. Sekarang kau berjanji bahwa Tuhanmu akan menurunkan hujan!" kata mereka mengejek Syu’aib.

"Kemarau panjang ini adalah azab dari Allah," kata Syu’aib.

"Apa kau bilang? Sesungguhnya kemarau panjang ini akaibat pengaruh musim, pengaruh alam!" bantah mereka.

Kaum Madyan memang susah diatur. Sudah diperingatkan berkali-kali, tetapi otaknya tetap saja bebal. Maka Syu’aib pun mengadukan hal itu kepada Allah, tentang nasib kaumnya yang membangkang. Maka Allah pun menurunkan azab kepada mereka. Allah memerintahkan Syu’aib dan pengikutnya yang beriman agar meninggalkan Madyan. Sementara orang-orang kafir mengira bahwa Syu’aib merasa malu shingga meninggalkan Madyan.

Tak lama kemudian, awan di atas langit datang sedikit demi sedikit. Orang-orang Madyan yang kafir merasa bahwa sebentar lagi akan turun hujan. Lama-lama awan itu semakin tebal dan tampak hitam. Awan terus datang dari segala arah. Semua penduduk di situ keluar rumah karena mengira hujan akan segera turun. Mereka sangat bergembira. Mereka berteriak-teriak kegirangan. Tetapi apa yang mereka kira bukan hujan. Mendung itu tidak menumpahkan air, tetapi titik-titik api yang membakar. Seketika udara diatas Madyan panas. Api kian lama kian banyak menghujani daerah itu. Dan akhirnya Madyan menjadi lautan api. Semua penduduk kafir itu mati terbakar.

Allah berfirman dalam QS Asy-Syu’ara: 189, "Maka mereka itu tidak percaya terhadap dia (Syu’aib) lalu azab hari yang dinaungi kekelaman (mendung) menimpa mereka. Sesungguhnya hal itu adalah azab yang sangat dahsyat."

Diambil dari Buku Cerita 25 Nabi dan Rasul Untuk Anak-anak

Advertisements